Bertemu lagi dengan saya Bimo Sakti.
Saya hanyalah seorang warga Negara biasa, yang sama sekali tidak
memiliki Background militer dan juga sama sekali tidak memiliki kontak
dengan ‘orang dalam’ di dunia militer. Saya hanyalah seorang Kaskus
Silent Reader dan juga menjadi Silent Reader dibeberapa forum dan blog
militer. Semua analisa dan tulisan saya pada blog ini merupakan hasil
pembelajaran dari tulisan dan komentar dari anggota forum dan blog
tersebut.
Pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai pesawat tempur
Indonesia yang cukup Fenomenal dan Misterius. Sebagian sisi misterius
dari Sukhoi Indonesia ini sudah saya posting pada artikel sebelumnya
yaitu
Menyibak Misteri Lock Sukhoi TNI AU. Nah kali ini saya juga akan membahas sedikit lagi sisi misterius pesawat ini.
Gagalnya Pembelian 12 Sukhoi KI (Su-30 KI) pada Tahun 1997
Pada tahun 1997, AU Pakistan membeli F-16 dari Amerika sebanyak beberapa pesawat yang jumlahnya saya kurang tau pasti. Namun,
ketika
9 F-16 dari total pemesanan Pakistan ini sudah selesai dan tinggal
pengiriman, Amerika memberlakukan embargo terhadap Pakistan terkait
dengan isu Nuklir Pakistan. Hal ini membuat pembelian F-16 Pakistan
tersebut dibatalkan dan pesawat yang terlanjur sudah selesai tersebut
rencananya akan di jual ke Negara lain.
Indonesia yang ketika itu ingin meningkatkan kemampuan Angkatan
Udaranya, menaruh minat besar akan pesawat baru yang tidak jadi dijual
ke Pakistan tersebut. Pesawat ini di maksudkan untuk melengkapi 12 F-16
yang dimiliki Indonesia ketika itu. Amerika dan Indonesia telah setuju
untuk mengalihkannya ke Indonesia dan kontraknya sudah di tanda tangani
pada Maret 1996. Namun setahun kemudian, kontrak ini dibatalkan oleh
Presiden Indonesia kala itu yaitu Soeharto karena beliau merasa gerah
dengan tudingan Amerika terhadap Indonesia mengenai permasalahan HAM
di Indonesia.
Akhirnya Indonesia pun melakukan langkah ‘membelot’ ke Rusia dengan
melakukan pemesanan 12 Sukhoi KI (SU-30KI). Sukhoi KI ini merupakan
satu-satunya Su-30 yang berkursi tunggal. Ketertarikan Indonesia
terhadap pesawat Sukhoi ini dikarenakan Indonesia sudah melihat
kehebatan pesawat ini ketika Sukhoi tampil di ajang Indonesia Air Show
pada Juni 1996. Langkah membeli Sukhoi ini bisa dikatakan sebuah
perlawanan Indonesia terhadap hegemoni Amerika yang terus menekan
Indonesia melalui isu-isu HAM dan sejenisnya.
Indonesia sangat berharap pembelian Sukhoi ini akan menaikkan martabat
Indonesia di mata dunia. Namun, pembelian Sukhoi ini tidak bisa lepas
dari tekanan Amerika dan sekutunya yang tidak ingin Indonesia berhasil
memiliki Sukhoi. Hal ini bisa dipahami, karena pembelian Sukhoi akan
mendekatkan Indonesia ke Rusia seperti ketika jaman pemerintahan
Presiden Soekarno yang membuat Indonesia begitu di takuti oleh Amerika
dan sekutunya.
Entah ada kaitan langsung atau tidak, krisis ekonomi yang melanda
Indonesia pada 1998 memaksa Indonesia membatalkan pembelian Sukhoi dari
Rusia ini. Gagalnya pembelian ini membuat kekuatan Angakatan Udara
Indonesia mengalami stagnasi dan
semakin parah ketika tahun 1999 sampai dengan 2005, Amerika dan sekutunya memberlakukan Embargo Militer terhadap Indonesia.
Pembelian Sukhoi Batch Pertama di Era Presiden Megawati Sukarno Putri
Embargo militer yang dilakukan Amerika sejak tahun 1999 kepada Indonesia
benar-benar telah melemahkan dan bahkan hamper melumpuhkan militer
Indonesia terutama Angakatan Udara Indonesia. Embargo tersebut
menyebabkan kelangkaan suku-cadang yang sangat berpengaruh terhadap
kesiapan operasional alutsita nasional. Saat itu, hampir keseluruhan
F-16, F-5 dan Hawk-209/209 kita terpaksa di-grounded karena sulitnya
suku-cadang akibat embargo AS dan sekutunya. Hal inilah yang kemudian
mendorong kita untuk berpaling ke produk-produk buatan Timur (Rusia,
China), sebagai salah satu cara untuk meminimalkan ketergantungan akan
produk-produk Barat yang sarat dengan kepentingan politik negara
penjual.
Kontrak pembelian pesawat Sukhoi ini akhirnya ditanda tangani pada tahun
2003 pada masa pemerintahan Persiden Megawati Sukarno Putri. Namun,
kontrak pembelian Sukhoi ini mengalami banyak penolakan dari berbagai
pihak di Indonesia sendiri, termasuk kalangan Legeslatif. Sampai pernah
kita mendengar istilah
Sukhoi Gate yang berencana mengusik kontrak pembelian Sukhoi ini. Entah apa yang menjadi dasarnya,
namun
tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak asing yang menekan untuk
menggagalkan kembali pembelian Sukhoi ini, agar Indonesia tidak mendekat
ke Rusia dan terus berada di bawah kendali Amerika dan Sekutunya.
Namun akhirnya, Indonesia berhasil membeli 4 pesawat Sukhoi dari Rusia. 4
pesawat ini terdiri dari 2 Su-27 SK (kursi tunggal) dan 2 SU-30MK
(kursi ganda). Hadirnya Sukhoi ini setidaknya telah menaikkan kekuatan
Angkatan Udara Indonesia walapun ketika belum dilengkapi senjata yang
lengkap.
Pembelian Sukhoi Batch Dua di Era Presiden Susilo Bambang Yudoyono
Proses pembelian Sukhoi Batch Pertama yang mengandung bayak sekali
kontroversi awalnya, banyak disebabkan keraguan dari berbagai pihak akan
kemampuan pesawat Sukhoi itu sendiri. Namun setelah Indonesia
mengopreasikan 4 Su-27/30, keraguan akan kemampuan Sukhoi ini menjadi
sirna. Malah menjadi terbalik, semakin banyak pihak-pihak terkait yang
mendorong agar Indonesia kembali membeli Sukhoi untuk melengkapi Sukhoi
yang sudah ada.
Keinginan ini semakin menguat ketika
Malaysia melakukan klaim sepihak terhadap wilayah Indonesia yaitu perairan Ambalat yang kaya minyak pada tahun 2005. Klaim ini dijawab Indonesia dengan melakukan
Modernisasi Militer Indonesia termasuk Angkatan Udara
agar Malaysia tidak lagi memandang Indonesia dengan sebelah mata.
Akhirnya Indonesia menandatangani kontrak pembelian 6 Sukhoi yang
terdiri dari 3 Su-30MK2 dan 3 Su-27SKM.
Nah, pada pembelian Batch kedua ini kita menemukan banyak misteri
dibaliknya. Salah satunya adalah ketika penerimaan pertama 3 Su-30MK2 di
Makasar.
2
Su-30MK2 yang baru tiba di Makasar, sedang dalam tahap uji terbang, dan
ketika sedang terbang, pesawat tersebut di Lock oleh pesawat musuh yang
tidak dikenal. Kejadian ini sangat menghebohkan dunia militer Indonesia.
Kita bisa melihat, bahwa ada pihak-pihak tertentu di dunia ini yang tidak senang dari kehadiran Sukhoi di langit Indonesia.
Wujud dari ketidaksenangan mereka, munkin susah untuk disampaikan
secara terbuka karena akan dianggap sebagai campur tangan terhadap
kedaulatan Indonesia, sehingga mereka melakukannya dengan cara yang
sedikit ‘kasar’, yaitu me Lock Sukhoi tersebut.
Tidak hanya itu, ketika pengiriman tahap kedua yaitu 3 Su-27SKM ada juga kejadian yang sangat mengejutkan yaitu
tewasnya 3 orang ahli teknisi Sukhoi yang turut mendampingi kedatangan Sukhoi ini ke Indonesia.
Tewasnya ketika teknisi ini menandakan ada sesuatu yang tidak beres dan
tidak kemungkinan ada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap Sukhoi
Indonesia sehingga hal ini bisa terjadi.
Apakah hanya satu kebetulan saja? Dua kejadian ganjil terjadi terhadap
kehadiran Sukhoi Indonesia ini menunjukkan kemungkinan adanya
pihak-pihak luar yang tidak senang akan kehadiran Sukhoi di Indonesia.
Tetapi siapa dibalik misteri ini?? Hanya pihak yang terlibat dah Tuhan
saja yang tau..
Pembelian Sukhoi Batch Tiga di Era Presiden Susilo Bambang Yudoyono
Saat ini Indonesia sudah memiliki 10 SU-27/30 sebagai penjaga kedaulatan
Indonesia. Namun jumlah ini masih belum bisa menandingi 18 Su-30MKM
milik Malaysia dan 24-F15SG milik Singapura. Untuk itu, Indonesia
kembali melakukan pembelian 6 Su-30MK2 untuk melengkapi Sukhoi Indonesia
menjadi satu skuadron penuh yaitu 16 Su-27/30. Kontrak pembelian ini
sudah ditandatangani beberapa waktu lalu. Pesawat ini diharapkan hadir
di Indonesia sebelum Tahun 2014.
Namun, pembelian tahap ketiga inipun tidaklah terlepas dari Kontroversi.
Banyak sekali pihak yang mempertanyakan pembelian ini. Bahkan ada
tuduhan pembelian ini mengalami Murk Up harga dan terindikasi korupsi.
Namun, Kementerian Pertahanan telah membantah keras tuduhan ini.
Beberapa LSM di Indonesia bahkaan melaporkan Kemenhan ke KPK terkait pembelian Sukhoi ini.
Tentunya kita sebagai warga Negara Indonesia yang baik tentunya
mendukung transparansi pembelian Sukhoi ini, agar kemungkinan terjadinya
Murk Up dan korupsi bisa di hindarkan.
Namun yang sedikit mengherankan bagi saya pribadi sebagai orang awam di
dunia militer dan politik adalah begitu kerasnya penolakan pembelian
Sukhoi ini. Memang benar bahwa dugaan mark up harus di tuntaskan. Namun
yang menjadi keheranan saya adalah Kenapa pembelian Sukhoi begitu heboh
sampai Kemenhan di laporkan ke KPK. Sementara ada juga proses Hibah 24
F-16 yang juga menelan biaya yang sangat besar dan bisa saja terjadi
mark up harga, namun penolakan terhadap Sukhoi ini sepertinya jauh lebih
besar dari penolakan hibah F-16.
Adakah kaitan semua kejadian ini?
Satu pertanyaan yang sering muncul bagi saya, dan mungkin bagi
rekan-rekan pembaca sekalian. Adakah kaitan semua kejadian diatas? Saya
tidak berani mengatakan atau menuduh semua itu ada kaitannya. Namun dari
penalaran kita, kita bisa melihat bahwa proses pembelian Sukhoi oleh
Indonesia mengalami begitu banyak sekali hambatan baik dari dalam negeri
maupun luar negeri.
Gagalnya pembelian 12 Su-30KI, Lock terhadap 2 Su-30MK2 oleh pihak
asing, tewasnya 3 teknisi Sukhoi yang turut mendampingi kedatangan 3
Su-27SKM ke Indonesia serta besarnya tekanan terhadap Kemenhan ketika
melakukan pembelian Sukhoi batch ke tiga ini, mudah-mudahan hanyalah
kebetulan semata dan juga mudah-mudahan tidak ada kaitannya antara satu
dengan lainnya.
Semoga apa yang saya takutkan selama ini tidak benar. Ya benar, selama
ini saya memiliki sedikit ketakutan bahwa ada pihak-pihak luar dan dalam
yang tidak mengharapkan Indonesia memiliki Sukhoi. Hmm Mudah-mudahan
ketakutan saya pribadi ini tidak benar, dan hanya sebuah imajinasi saya
saja. Mudah-mudahan hanyalah sebuah imajinasi saya sebagai orang awam
dibidang militer.